Konflik Suriah & Irak, Mungkinkah Berakhir?

Suriah dan Irak adalah nama dua negara yang dikorbankan untuk mengalami konflik berkepanjangan. Setelah Afghanistan yang porak poranda karena perang, kini Suriah menjadi pengganti Afghanistan yang perlahan mulai kondusif, menyusul Irak yang dibombardir oleh perang yang belum jelas kapan akan diakhiri.

Memahami latar belakang konflik

Irak

Irak mulai porak poranda dihajar perang ketika Amerika Serikat dengan presiden Bushnya yang menyatakan secara sepihak bahwa negara ini menyimpan senjata nuklir. Dengan alasan hendak memusnahkan senjata penghancur massal, Amerika mengirimkan tentaranya untuk membumihanguskan Irak dan menjatuhkan Saddam Husein dari kursi kepresidenan.

Setelah Saddam Husein ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, dan Amerika bebas masuk ke Irak, tidak satupun senjata pemusnah massal yang berhasil ditemukan. Walau demikian, itu tidak membuat tentara Amerika kembali ke negaranya. Alasan baru dibuat untuk membuat keberadaan tentaranya legitimate di Irak, yaitu dengan isu terorisme yang tumbuh di Irak dalam bentuk organisasi Alqaida dan dilanjutkan dengan ISIS.

amerika invasi irak

Sepanjang kisah pendudukan Amerika di Irak, yang menjadi korban tidak lain adalah warga sipil yang merasa kemerdekaannya dirampas dan berusaha melakukan perlawanan secara sporadis. Sedangkan kelompok masyarakat lain memanfaatkan situasi yang memperkeruh keadaan dengan melancarkan bom mobil yang mengakibatkan korban rakyat sipil. Dengan kondisi seperti ini, kebesaran negara Irak yang dahulunya menjadi seteru Amerika Serikat di bidang politik kini telah tenggelam dan bahkan mengalami kemunduran di segala bidang karena mengalami perang saudara yang entah kapan berakhir.

Suriah

Sebelumnya tidak ada yang memprediksi negara dengan sejarah panjang dan berbagai peninggalannya yang bernilai tinggi akan mengalami peperangan berkepanjangan. Dengan satu insiden karena menginginkan keadilan bagi rakyat, telah mengubah pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung rakyat justru menjadi orang pertama yang memusnahkan rakyatnya. Bahkan, Suriah sampai meminta bantuan Rusia demi menguatkan posisinya menekan rakyatnya yang tidak bersenjata.

konflik di suriah masih terus

Korban jiwa berjatuhan tanpa mengenal jenis kelamin dan usia. Dan hal ini terjadi terbuka di depan mata rakyat Suriah lainnya. Dengan alasan konspirasi dan perlawanan terhadap pemerintah yang sah, sebagian rakyat Suriah lainnya mengaminkan tindakan pemerintahnya untuk bersikap keras terhadap sebagian rakyatnya sendiri.

Kota yang kaya dengan peninggalan sejarah yang tak ternilai pun luluh lantak, hancur bersama warganya. Hingga saat ini, tidak ada tindakan dari pemerintah Suriah untuk menghentikan pertumpahan darah rakyatnya sendiri. Jumlah pengungsi yang terus bertambah di wilayah-wilayah sekitar Suriah tidak juga membuat pemerintah mengakhiri konflik yang dibuatnya sendiri.

Mengakhiri Konflik Irak dan Suriah, Mungkinkah?

Irak dan Suriah telah menjadi contoh telanjang bagi bencana kemanusiaan di abad modern. Keacuhan pengurus dunia yang dikenal dengan PBB makin membuka mata warga dunia, bahwa konflik dua negara ini dipelihara demi keuntungan negara tertentu. Hal yang paling jelas tentunya perdagangan senjata dan uji coba gratis senjata-senjata tercanggih dari negara-negara produsen seperti Amerika Serikat dan Rusia. Bahkan kini Tiongkok turut bermain dengan motif ekonomi yang kuat, yaitu menguasai sumber daya alam negara-negara korban konflik ini.

Selain itu, pemerintah negara konflik tersebut juga turut membantu konflik berkepanjangan ini. Sebagai pemerintah bentukan/boneka dari negara adidaya, mereka tidak ingin konflik selesai karena akan menjatuhkan kekuasaan mereka di negara ini. Tanpa mempedulikan rakyatnya, pemerintah ini telah menjadi kaki tangan negara luar dalam menjaga konflik tanpa akhir di negaranya sendiri. Dengan sikap seperti ini, mustahil rasanya konflik akan menemui ujung di dua negara tersebut.