Donald Trump dan Sikap Amerika Terhadap Kaum Muslim

Konstelasi politik yang terjadi di Amerika untuk pemilihan presiden ke -45 akhirnya berujung pada tanggal 8 November 2016. Donald Trump yang berasal dari partai Republik berhasil mengalahkan rivalnya yaitu Hillary Clinton yang berasal dari partai Demokrat dengan perolehan suara 45.9% : 48,0% dan suara elektoral 304 dan 207. Trump pun resmi dilantik pada tanggal 21 Januari 2017.

donald trump- presiden as ke 45Selama sembilan bulan masa kerjanya sikap dan tindakan Trump yang kontroversial sering disoroti oleh banyak pihak seperti media dan masyarakat umum. Kebijakan Trump juga sering kali menghasilkan sikap pro dan kontra. Beberapa kebijakan itu antara lain penarikan diri dari Trans-Pacific Partnership (TPP), menarik diri dari kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), melakukan penghentian pendanaan kepada kota kudus yaitu kota untuk menampung para imigran ilegal tanpa dokumen serta tidak bisa ditahan oleh petugas, melakukan penghambatan kepada para imigran dari wilayah yang dekat dengan isu terorisme.

Selain itu, kebijakan Trump yang sangat disoroti banyak pihak adalah terkait pandangan Trump kepada umat muslim. Pandangan yang kurang menyenangkan Trump kepada muslim ini sudah dimulai semenjak masa kampanyenya. Dia bahkan menyatakan bahwa akan melarang para umat muslim untuk masuk ke Amerika Serikat.

Hal ini patut diduga sebagai strategi Trump untuk menaikkan suara, meskipun tetap saja banyak pihak yang tidak suka dengan kebijakan Trump ini. Terbukti berdasarkan hasil survey yang dianalisis oleh BBC Indonesia, pemilih Donald Trump banyak berasal dari kaum kulit putih dan juga pemilih dengan rentan usia di atas 45 tahun serta dengan penduduk yang berpendapatan di atas US$50.000 setahun.  Berbeda halnya dengan Barrack Obama dulu yang sangat bersahabat dengan kaum muslim, mendapatkan banyak dukungan oleh para generasi muda Amerika berusia di bawah 45 tahun dan banyak disokong oleh pemilih dari penduduk yang berpenghasilan sekitar US$30.000 setahun.

donald trump and islam

Selain alasan peningkatan dukungan suara, pemikiran Trump terhadap muslim diduga merupakan pengaruh dari orang di balik Trump, yaitu penasihatnya yang bernama Steve Bannon. Banyak statement dan juga pemikiran Trump selama melakukan kampanya merupakan ide-ide orisinl Steve Bannon. Steve Bannon sendiri merupakan tokoh yang dikenal dengan pemikirannya yang sangat rasis.

Trump juga mengeluarkan larangan pemberian visa Amerika Serikat kepada 7 negara muslim dunia, yaitu Irak, Iran, Suriah, Libya, Yaman, Sudan, dan Somalia. Sehingga dengan kebijakan ini, banyak umat muslim yang mengalami kesulitan ketika ingin mengurus visa Amerika.

Walau demikian, kebijakan ini bukan berarti tanpa perlawanan. Amerika, negara di mana Hak Asasi Manusia dicetuskan dan juga demokrasi dijunjung tinggi nyatanya tetap mencoba untuk mempertahankan hal tersebut ditengah kebijakan Trump yang sangat diskriminatif kepada salah satu golongan manusia karena agama tertentu. Banyak aksi demo dilakukan oleh warga Amerika terkait dengan kebijakan ini.

Kebijakan ini ditentang dengan putusan sementara yang dikeluarkan oleh salah seorang hakim di Seattle yang menghadang larangan perjalanan bagi warga muslim yang berasal dari 7 negara. Hasil keputusan ini berlaku secara nasional, meski dari pihak pemerintah merasa bahwa negara bagian tidak berhak untuk melakukan kebijakan kepada negara federal, akan tetapi hakim berkata lain.

Dikutip dari BBC bahwa Jaksa Agung Washington, Bob Ferguson merasa bahwa kebiajakan yang dikeluarkan oleh Presiden Trump sama sekali tidak mempunyai dasar hukum dan dinilai ilegal. Selain itu bersifat diskriminatif dan membatasi kebebasan bagi tiap individu. Pada akhirnya, Trump harus menyadari bahwa dirinya adalah presiden sebuah negara yang menjunjung demokrasi dan hak asasi manusia untuk datang dan pergi ke Amerika Serikat.